![]() |
| Pergelaran wayang Ki Sudrun di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar |
Beritabersatu.com, Blitar – Seni dan budaya kembali menjadi sarana efektif dalam menyuarakan pesan moral dan kritik sosial. Hal itu tampak dalam dakwah budaya yang disampaikan Ki Sudrun, tokoh spiritual asal Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, melalui pagelaran wayang kulit.
Pagelaran yang digelar dalam forum Jamaah Patekah tersebut dihadiri sekitar seribu jamaah dari berbagai daerah. Acara yang diprakarsai Kardiyono bersama para penggiat Patekah berlangsung khidmat hingga Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB dan turut disaksikan Kapolsek Nglegok.
Puluhan tokoh spiritual, para salik yang sedang menempuh laku batin, para pengusaha, serta pimpinan pondok pesantren dari berbagai kota larut dalam lakon wayang “Noyorono Potong Kaki”. Lakon ini sarat dengan pesan keadilan, keberanian moral, sekaligus kritik terhadap lemahnya penegakan hukum.
Dalam dakwahnya, Ki Sudrun menegaskan bahwa seluruh gerak manusia sejatinya digerakkan oleh Yang Maha Hidup. Karena itu, manusia diminta menanggalkan kesombongan dan meningkatkan kesadaran diri.
“Kami ini bukan orang baik. Kami belajar menjadi baik agar hidup lebih baik. Bisa bergerak, berbicara, dan berbuat karena ada yang menghidupi. Lalu apa arti kesombongan?” ujar Ki Sudrun.
Ia mengibaratkan jasad manusia sebagai mati sajroning urip—mati di dalam hidup. Ketika jasad sejatinya mati namun dapat bergerak, maka ada kuasa besar yang menggerakkannya.
Dakwah budaya tersebut juga memuat nilai nasionalisme. Seruan “Jaga Merah Putih” dikumandangkan sebagai simbol kecintaan pada Tanah Air. Pekik Pancasila menggema, lalu acara ditutup dengan lagu “Syukur” ciptaan Husein Mutahar yang populer dinyanyikan Edi Soed.
Ki Sudrun juga mengemas tokoh wayang secara kontemporer agar dekat dengan konteks kekinian. Wayang tidak hanya menjadi tontonan, melainkan tuntunan kehidupan.
Dalam lakon itu, Noroyono digambarkan sebagai putra raja yang bijak namun tergoda harta hingga melanggar hukum. Sang Ratu sebagai simbol keadilan tetap menjatuhkan hukuman potong kaki kepada anaknya sendiri.
“Siapa pun pewaris kekuasaan, jika melanggar hukum tetap harus dihukum. Hukum tidak boleh pilih kasih,” menjadi pesan yang disampaikan melalui lakon tersebut.
Ki Sudrun juga menyinggung keprihatinannya terhadap bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Nusantara. Menurutnya, kerusakan alam disebabkan keserakahan manusia, pembabatan hutan, eksploitasi tambang, serta lemahnya penegakan hukum.
“Hukum kita sering tajam ke bawah, tumpul ke atas. Alam akhirnya memberi peringatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kardiyono atau akrab disapa Tonyok, penggiat Jamaah Patekah, menilai dakwah melalui seni dan budaya lebih mudah diterima masyarakat.
“Dengan dakwah yang dibalut seni dan budaya, pesan yang disampaikan lebih mengena. Kami sudah safari ke berbagai kota bersama Ki Sudrun, dan Alhamdulillah diterima semua kalangan,” ujarnya.
Pagelaran wayang kulit tersebut menjadi pengingat bahwa ketika hukum kehilangan ketegasan dan manusia melampaui batas, alam tak segan memberi peringatan melalui bencana. (Zan)


