![]() |
| Andi Waris Halid Bersama Nurdin Halid saat berkunjung ke TK Dompili |
BERITABERSATU.COM, SINJAI – Kabar gembira sekaligus angin segar datang bagi para pahlawan tanpa tanda jasa di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Senator asal Sulawesi Selatan, Andi Waris Halid, secara terang-terangan menyuarakan kegelisahannya terkait nasib guru kelompok bermain yang selama ini dinilai masih "terlupakan" oleh sistem.
Dalam kunjungannya ke TK Dompili, Kecamatan Sinjai Timur, Senin (9/3/2026), Andi Waris menyoroti adanya gap kesejahteraan yang cukup lebar. Menurutnya, saat ini guru honorer di level TK hingga SMA sudah mulai mendapat titik terang melalui jalur PPPK dan sertifikasi. Namun, hal serupa belum dirasakan sepenuhnya oleh mereka yang mengabdi di kelompok bermain.
Banyak yang belum sadar bahwa beban kerja dan tanggung jawab guru kelompok bermain sangatlah besar. Mereka adalah sosok pertama yang membentuk fondasi mental dan karakter anak bangsa sebelum masuk ke jenjang sekolah formal, untuk itu kata dia, tidak boleh ada sekat antara guru "formal" dan "non-formal" dalam hal kesejahteraan. Untuk itu negara harus hadir memberikan payung hukum yang inklusif agar guru kelompok bermain bisa diangkat menjadi PPPK (Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).
“Negara harus hadir! Guru kelompok bermain tidak boleh diperlakukan berbeda. Mereka punya peran krusial mencerdaskan anak sejak usia dini, jadi sudah sewajarnya mendapatkan hak dan kesejahteraan yang setara,” tegas Andi Waris Halid.
Tak sekadar bicara di lapangan, Andi Waris berkomitmen akan membawa isu ini ke forum resmi di tingkat pusat. Tujuannya jelas, mendorong pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih adil. Harapannya, tidak ada lagi cerita guru yang hanya dibayar "ikhlas" tanpa adanya jaminan status yang jelas dari negara.
Langkah ini diharapkan menjadi game changer bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, agar kualitas pengajar di level paling dasar pun tetap terjaga karena kesejahteraannya terjamin. (*)


