![]() |
| Pakar komunikasi politik, Assoc. Prof. Dwi Santoso, Ph.D |
BERITABERSATU.COM, SINJAI – Di tengah kepungan hoaks dan tajamnya ujaran kebencian di ruang digital, Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan wajah demokrasi Indonesia. Melalui Kuliah Umum bertajuk “Etika Berbahasa di Ruang Publik: Menyemai Komunikasi Santun untuk Politik Indonesia yang Beradab”, UMSi menyuarakan urgensi kembalinya adab dalam berpolitik.
Acara yang berlangsung khidmat di Auditorium Kampus UMSi pada Senin (29/12/2025) ini menghadirkan pakar komunikasi politik ternama, Assoc. Prof. Dwi Santoso, Ph.D. dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Membuka paparannya, Dwi Santoso menyajikan data yang menggetarkan: sepanjang 2023, Kominfo mencatat 73% percakapan politik di media sosial bernada negatif dan lebih dari setengah juta konten hoaks bertebaran. Dampaknya nyata, partisipasi pemuda anjlok 15% karena muak dengan diskusi yang dianggap "beracun".
"Demokrasi kita sedang terdegradasi menjadi ajang saling hina. Ruang publik bukan lagi tempat bertukar ide, tapi medan pertempuran verbal," tegas Dwi Santoso di hadapan ratusan mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan.
Sebagai penawar, Dwi Santoso memperkenalkan konsep inovatif Trisula Nusantara. Sebuah kerangka kerja yang mengawinkan intelektual modern dengan kearifan lokal (local wisdom) untuk meredam polarisasi. Tiga pilar utama tersebut adalah, Analisis dengan Siri’, Komunikasi dengan Ajining Diri, dan Solusi dengan Gotong Royong.
Ia mencontohkan bagaimana nilai Siri’, Pacce, dan Lempu’ dari budaya Bugis-Makassar seharusnya menjadi filter sebelum seseorang menekan tombol 'send' di media sosial. "Kritiklah kebijakan dengan data (Lempu') dan empati (Pacce), bukan dengan makian yang meruntuhkan harga diri (Siri')," tambahnya.
Kuliah umum ini bukan sekadar teori. Bagi mahasiswa UMSi, khususnya calon peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN), materi ini merupakan instruksi taktis. Mereka dipersiapkan untuk menjadi "jembatan" di tengah masyarakat yang mungkin terfragmentasi akibat pilihan politik.
"Kami ingin kampus tidak hanya mencetak sarjana yang pintar secara akademik, tetapi juga pemimpin yang beradab. Mahasiswa UMSi harus menjadi agen yang memuliakan martabat warga di lokasi KKN nanti," ujar Rektor UMSi dalam sambutannya.
Di akhir sesi, suasana auditorium bergemuruh saat Dwi Santoso mengajak mahasiswa memulai gerakan nyata, seperti podcast politik santun hingga aksi #SaringSebelumSharing.
"Dari Sinjai, kita mulai revolusi etika politik Indonesia. Bukan dengan teriakan, tapi dengan kata-kata bijak. Bukan dengan memecah belah, tapi dengan menyatukan dalam keberagaman," pungkasnya yang disambut standing applause dari para peserta. (**)


