Chat WhatsApp Soal Tsunami Bikin Warga Pesisir Bone Panik -->
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Chat WhatsApp Soal Tsunami Bikin Warga Pesisir Bone Panik

Berita Bersatu
15 Agustus 2026

Chat WhatsApp Soal Tsunami Bikin Warga Pesisir Bone Panik


BERITABERSATU.COM, BONE — Pesan berantai melalui WhatsApp yang mengatasnamakan informasi peringatan tsunami beredar di tengah masyarakat Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (15/8/2026). Pesan tersebut memicu kepanikan sejumlah warga yang bermukim di kawasan pesisir, khususnya Bajoe, Lonrae, Panyula dan Tibojong.


Pesan itu beredar setelah gempa bumi kuat mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu. Rekaman video yang memperlihatkan guncangan gempa di kawasan Pelabuhan Maumere, Kabupaten Sikka, juga ramai beredar di media sosial.


Dalam pesan WhatsApp yang diterima warga, disebutkan bahwa berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Bone berada dalam status “Waspada Tsunami”. Pesan tersebut juga meminta warga di wilayah pesisir rendah segera menjauhi pantai dan menuju kawasan yang lebih tinggi atau pusat kota.


Namun, informasi tersebut perlu disikapi secara hati-hati dan tidak langsung dipercaya sebagai pemberitahuan resmi. BMKG pada Sabtu (15/8/2026) menyatakan telah mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada pukul 04.58 WIB.


Gempa tersebut terjadi di wilayah laut dan memicu peringatan dini tsunami. Sejumlah wilayah di NTT terdampak guncangan kuat, sementara gelombang tsunami dengan ketinggian di bawah satu meter juga dilaporkan teramati.


Salah seorang warga yang tinggal di kawasan pesisir Lonrae, berinisial SA, mengaku sempat merasa panik setelah menerima pesan berantai tersebut.


Ia mengatakan keluarganya bahkan meminta agar dirinya tidak bermalam di kawasan pesisir Lonrae karena khawatir terjadi tsunami.


“Anak saya menghubungi agar saya tidak bermalam dulu di Lonrae. Dia menyuruh saya pulang ke kampung yang jauh dari pesisir Lonrae,” kata SA saat dikonfirmasi, dengan kondisi masih diliputi kekhawatiran.


Menurut SA, kepanikan muncul karena pesan tersebut menggunakan nama BMKG dan berisi instruksi agar warga pesisir segera meninggalkan kawasan pantai.


Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya masyarakat memastikan kebenaran informasi kebencanaan sebelum meneruskannya kepada orang lain. Informasi mengenai gempa maupun potensi tsunami sebaiknya merujuk pada kanal resmi BMKG dan pemerintah daerah, bukan semata-mata pesan berantai di media sosial atau WhatsApp.


Gempa M7,7 yang mengguncang Flores menjadi perhatian luas karena kekuatannya cukup besar dan berdampak pada sejumlah wilayah. BMKG mencatat gempa terjadi pada Sabtu pagi dan sempat memicu peringatan dini tsunami.


Meski demikian, beredarnya pesan yang secara spesifik menyebut Kabupaten Bone berstatus “Waspada Tsunami” perlu diverifikasi kembali dengan sumber resmi.


Masyarakat pesisir Bone diimbau tetap tenang, tidak menyebarluaskan informasi yang belum terkonfirmasi.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bone, Andi Ikbal, S.STP, mengatakan pihaknya biasanya meneruskan informasi kebencanaan berdasarkan pemberitahuan resmi dari BMKG.


“Biasanya ndi meneruskan langsung dari BMKG,” kata Andi Ikbal saat dikonfirmasi beritabersatu.com.


Laporan : Suparman Warium