![]() |
| Penyerahan zakat dan infak Disdik Sinjai di Kantor Baznas |
BERITABERSATU, SINJAI — Di balik hiruk-pikuk papan tulis dan diskusi kurikulum, ada denyut kepedulian yang merayap tenang di lorong-lorong instansi pendidikan Kabupaten Sinjai. Jumat (13/3/2026) pagi itu, matahari di Jalan Persatuan Raya tampak lebih cerah, seolah ikut mengiringi langkah rombongan dari Dinas Pendidikan menuju Kantor Baznas Sinjai.
Bukan membawa tumpukan berkas administrasi, kedatangan mereka membawa sebuah amanah besar, Rp84.730.000. Angka tersebut bukanlah sekadar nilai nominal, melainkan kristalisasi dari rasa empati para pegawai, guru, hingga tenaga kependidikan yang menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk sesama.
Penyerahan zakat dan infak ini menjadi bukti bahwa para pahlawan tanpa tanda jasa di Sinjai tidak hanya menanamkan nilai moral di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata.
Kepala Dinas Pendidikan Sinjai, Irwan Suaib, menyerahkan langsung dana tersebut dengan raut wajah penuh syukur. Baginya, ini adalah bentuk tanggung jawab moral korps pendidikan terhadap kesejahteraan sosial di Bumi Panrita Kitta.
"Semoga dana yang disalurkan ini dapat memberikan manfaat dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, serta menjadi amal jariyah bagi kita semua," ungkap Irwan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Baznas No. 111 ini bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ini adalah pesan kuat tentang kolaborasi. Dinas Pendidikan menyadari bahwa pendidikan dan kesejahteraan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Anak-anak tidak bisa belajar dengan tenang jika perut keluarganya kosong, dan masyarakat tidak bisa berdaya tanpa dukungan kolektif.
Langkah ini diharapkan menjadi pemantik api bagi instansi lain di Kabupaten Sinjai. Jika dunia pendidikan sudah memulai langkah nyata dalam kedermawanan, maka sektor lain diharapkan mampu menyusul untuk merajut jaring pengaman sosial yang lebih kuat.
Hari itu, Dinas Pendidikan Sinjai telah membuktikan bahwa tugas mereka tidak berhenti saat lonceng sekolah berbunyi. Di luar kelas, mereka tetap menjadi pengajar mengajarkan kita semua tentang arti pentingnya berbagi. (**)


