Kongres XXI KEPMI Bone, Muh. Khaidir Mu’tashim Terpilih sebagai Formatur Ketua Umum 2026–2028 -->
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Kongres XXI KEPMI Bone, Muh. Khaidir Mu’tashim Terpilih sebagai Formatur Ketua Umum 2026–2028

Berita Bersatu
14 Mei 2026

Kongres XXI KEPMI Bone


MAKASSAR, BB — Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (KEPMI) Bone sukses melaksanakan Kongres XXI dengan mengusung tema “Revitalisasi KEPMI Bone: Sinergi dan Integritas Menuju Lembaga yang Progresif dan Berdaya Saing.”


Kongres yang berlangsung di Kota Makassar tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan organisasi sebagai wadah berhimpun, ruang kaderisasi, sekaligus ruang perjuangan intelektual bagi pelajar dan mahasiswa asal Bone di berbagai daerah. Selain menjadi agenda pergantian kepemimpinan, forum ini juga menjadi ruang evaluasi, konsolidasi, dan refleksi terhadap arah gerak organisasi di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.


Rangkaian kegiatan Kongres XXI berlangsung dinamis dan penuh antusiasme kader. Kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan di AAS Building, kemudian dilanjutkan dengan forum persidangan di Gedung Guru Jusuf Kalla dan Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, hingga ditutup di Gedung LPTQ Sulawesi Selatan.


Pelaksanaan kongres turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Dr. Andi Ilham Samanlangi selaku demisioner Ketua Umum DPP KEPMI Bone, perwakilan Pemerintah Kabupaten Bone, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta unsur Direktorat Jenderal Hortikultura sebagai representasi Menteri Pertanian Republik Indonesia yang membuka kegiatan secara resmi.


Kehadiran berbagai unsur tersebut dinilai menjadi bukti bahwa KEPMI Bone masih memiliki posisi strategis sebagai organisasi kedaerahan sekaligus mitra kritis dalam pembangunan sumber daya manusia daerah.


Dalam forum kongres, berbagai isu strategis organisasi turut menjadi pembahasan kader. Mulai dari penguatan kaderisasi, pengembangan lembaga otonom, penguatan hubungan antar komisariat dan cabang, hingga peran organisasi dalam menjawab persoalan sosial dan pendidikan.


Selain itu, dinamika persidangan juga memperlihatkan semangat kekeluargaan yang tetap menjadi identitas utama KEPMI Bone. Perbedaan pandangan yang muncul selama forum berlangsung tetap dibingkai dalam semangat persaudaraan dan nilai kebersamaan yang telah lama menjadi kultur organisasi.


Melalui proses persidangan yang berlangsung panjang dan demokratis, Muh. Khaidir Mu’tashim resmi ditetapkan sebagai Formatur Ketua Umum DPP KEPMI Bone periode 2026–2028. Kepemimpinan baru tersebut diharapkan mampu menghadirkan semangat baru dalam membangun organisasi yang lebih adaptif, progresif, dan terintegrasi.


Di kalangan kader, istilah “DIGITAL” juga mulai menjadi perhatian dalam ruang-ruang diskusi organisasi. Akronim dari Disiplin, Giat, dan Total itu dinilai sebagai semangat baru dalam membangun karakter kader yang aktif, konsisten, dan bertanggung jawab terhadap organisasi maupun daerah.


Penguatan hubungan antara DPP, DPK, dan DPC juga menjadi salah satu harapan besar pasca kongres. Kader berharap kepengurusan mendatang mampu menghadirkan pola komunikasi organisasi yang lebih terintegrasi sehingga gerak organisasi di setiap tingkatan dapat berjalan lebih harmonis, kolektif, dan efektif.


Di sisi lain, nilai-nilai budaya Bugis Bone seperti getteng, lempu, ada tongeng, dan temmappasilaingeng tetap dipandang sebagai fondasi moral organisasi. Nilai tersebut dianggap relevan dalam menjaga integritas kader serta marwah organisasi di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.


Kongres XXI juga menjadi pengingat bahwa KEPMI Bone bukan sekadar organisasi seremonial, melainkan ruang pembentukan karakter, pengabdian, dan lahirnya gagasan-gagasan kritis mahasiswa Bone. Besar harapan agar organisasi ini terus melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, kepekaan sosial, dan komitmen terhadap pembangunan daerah.


Dengan berakhirnya Kongres XXI, KEPMI Bone kini memasuki babak baru perjalanan organisasi. Tantangan ke depan dinilai tidak ringan, namun semangat kaderisasi, solidaritas, dan nilai kekeluargaan diharapkan tetap menjadi fondasi utama dalam membawa organisasi menuju arah yang lebih progresif dan berdaya saing.(*)


Laporan : Suparman Warium