![]() |
| Kajian Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Almarisah Madani |
MAKASSAR, BB -- Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Almarisah Madani menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai penuh kontradiksi. Melalui rilis kajian bertajuk “Menakar Ironi Ekonomi 2026: Inflasi Melandai, Tapi Rupiah Terpuruk”, organisasi mahasiswa tersebut mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada angka statistik makro, sementara masyarakat mulai merasakan tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Dalam rilis yang disampaikan di Makassar, Kamis (21/5/2026), BEM Univeral menyebutkan bahwa inflasi tahunan Indonesia per April 2026 memang tercatat melandai di angka 2,42 persen (year on year/yoy). Namun, kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan realitas ekonomi yang dihadapi masyarakat di tingkat bawah.
Menurut kajian tersebut, kelompok pengeluaran esensial rumah tangga seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar justru mengalami kenaikan signifikan hingga 16,19 persen pada kuartal awal 2026. Kondisi itu dinilai menjadi indikator bahwa beban ekonomi masyarakat tetap meningkat di tengah klaim stabilitas inflasi nasional.
BEM Univeral juga menyoroti pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang telah menembus level psikologis Rp17.000 dan sempat mencapai Rp17.751 di pasar ritel. Organisasi tersebut mengkritik narasi pemerintah yang dinilai terlalu menyederhanakan persoalan dengan menyebut masyarakat kecil tidak terdampak karena tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.
Analis senior Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Ronny Sasmita, menilai pelemahan kurs Rupiah memiliki dampak sistemik terhadap kehidupan masyarakat, termasuk di wilayah pedesaan.
“Rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling akhir menyadari gejolak kurs, tetapi justru menjadi yang paling cepat merasakan dampak kenaikan harga barang,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah secara otomatis meningkatkan biaya impor energi Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, terlebih di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu fenomena imported inflation atau inflasi yang berasal dari tekanan eksternal akibat impor. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat melalui kenaikan biaya produksi pangan, seperti tahu dan tempe, hingga meningkatnya ongkos transportasi dan distribusi logistik.
Menanggapi situasi tersebut, BEM Univeral mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
Adapun sejumlah poin yang disoroti dalam kajian tersebut antara lain:
Pemerintah diminta menekan ketergantungan terhadap impor energi melalui optimalisasi program energi alternatif, termasuk penguatan implementasi B50.
Pemerintah diminta membangun komunikasi publik yang lebih terbuka dan tidak meremehkan keresahan masyarakat terkait kondisi ekonomi.
Stabilitas ekonomi nasional dinilai seharusnya diukur dari keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat, bukan semata berdasarkan angka statistik makroekonomi.
BEM Univeral menegaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini membutuhkan kebijakan yang responsif, transparan, dan berpihak pada masyarakat kecil agar tekanan ekonomi tidak semakin meluas di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah.
Laporan: Ryan


